Sabtu, 19 Oktober 2019

Penanganan Bayi dari Ibu yang Terinfeksi Hepatitis B Saat Hamil


Kasus hepatitis B saat hamil menyebabkan semakin meningkatnya bayi baru lahir yang terinfeksi HBV. Untuk menanganinya, dilakukan upaya medis yang berguna menekan risiko hepatitis B pada bayi yang baru lahir tersebut. Setelah selama kehamilan ibunya mendapatkan penanganan, kini bayi yang baru saja lahir harus mendapatkan berbagai penanganan medis ini sesegera mungkin.

Penanganan Bayi dari Ibu yang Terinfeksi Hepatitis B Saat Hamil


1.    Pemberian Vaksin Hepatitis B
Ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis B atau yang lebih dikenal dengan sebutan HBV, secara otomatis menularkan virus tersebut pada janin yang dikandungnya. Risiko ibu hamil penderita hepatitis B lebih rentan karena menyangkut nyawa ibu dan janin. Setelah ibunya mendapatkan penanganan sampai melahirkan, bayi yang dilahirkan harus diberi vaksin hepatitis B.

Langkah medis secara khusus ini memang sesuai dengan penanganan medis agar bayi segera sembuh. Vaksin hepatitis B melalui suntikan ini harus segera diberikan paling tidak dalam kurun waktu bayi berusia 12 jam. Jika lebih cepat, maka lebih baik, tentu dengan mempertimbangkan kestabilan kesehatan bayi.

Tujuannya agar virus hepatitis B yang masih bersarang bisa segera dilemahkan dan bayi bisa tumbuh normal. Hal itu juga terkait dengan risiko hepatitis B yang sangat besar pada bayi. Lebih dari itu, vaksin hepatitis B ini mampu melindunginya dari HBV ke depannya setelah tumbuh dewasa.

2.    Pemberian Vaksin Immunoglobulin
Selain pemberian vaksin hepatitis B tersebut, terdapat pemberian vaksin immunoglobulin yang sangat dibutuhkan bayi dalam meningkatkan kekebalan tubuhnya dari HBV yang menginfeksinya sejak lahir. Vaksin berupa antibodi ini juga diberikan melalui suntikan. Berdasarkan aturan medis, vaksin hepatitis B dan vaksin antibodi ini diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir.

3.    Pemantauan Kesehatan Secara Berkala
Hepatitis B saat hamil sangat berisiko bagi bayi yang dilahirkan. Meski demikian, terdapat penanganan medis secara khusus untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Penularan virus hepatitis B dari ibu ke bayi secara otomatis dapat ditangani dengan pemantauan kesehatan bayi secara berkala dari lahir sampai kondisinya stabil setelah pemberian vaksin hepatitis B dan antibodi.

Tindakan pemantauan ini harus dilakukan dengan baik dan benar. Jika berada dalam kondisi ini, maka rajinlah untuk memeriksakan perkembangan kondisi bayi secara berkala agar dapat segera sembuh. Tumbuh kembangnya juga akan optimal sesuai usianya.

4.    Pemberian Vaksin Hepatitis B Berulang
Setelah vaksinasi hepatitis B dan antibodi pada bayi setelah lahir, terdapat pengulangan vaksinasi hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B yang berulang ini sudah sesuai aturan medis, sebagaimana yang diterapkan pada imunisasi setiap bayi. Pemberian dosis tambahan ini dilakukan saat bayi berusia 1 bulan dan 6 bulan, sebagai penyempurnaan proteksi bayi dari penyakit hepatitis B.

Rangkaian penanganan medis di atas sangat diperlukan bagi bayi yang baru lahir agar dampak hepatitis B tidak semakin berisiko. Bagaimanapun juga, ibu harus memahami kondisi bayi dan mengizinkan tim dokter untuk melakukan intervensi medis. Langkah khusus ini dapat menyembuhkan bayi, mengingat risiko hepatitis B saat hamil pada bayi sangat besar.